Rabu, 4 Juni 2008 11:03 WIB
JAKARTA, RABU - Menyambut hari Lingkungan Hidup Internasional 5 Juni, sekitar 100 mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi damai peduli lingkungan di Bundaran Hotel Indonesia.
Dalam aksi itu , mahasiswa dari Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan membagikan 1.000 bibit pohon di dua tempat, yakni bagi pemakai kendaraan di Bundaran HI dan sisanya ditanam di Universitas Trisakti di Nagrak Cibubur.
Menurut koodinator Lavinia , tujuan aksi ini untuk mengajak masyarakat memperhatikan lingkungan sekitar, khususnya soal memburuknya kondisi lingkungan perkotaan. "Minimnya penanaman pohon di ruang terbuka hijau perkotaan saat ini menjadi dasar aksi ini," kata Lavinia.
Dalam aksi tersebut mahasiswa juga melibatkan lima SMA di Jakarta, yakni SMA Tarsisius I, Tarakanita II, Kartika, Yupentek Tangerang, dan SMA Asisi. "Kami sengaja mengajak perwakilan tiap sekolah agar menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap lingkungan," ujar Lavinia.
Menurut Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Hinijati Widjaja, para dosen mendukung aksi ini dan membagikan 100 bibit di HI dan sisanya di Nagrak. Aksi ini berlangsung tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas di sekitar lokasi. Terlihat beberapa petugas kepolisian mengawal aksi itu.(C6-08)
Source : kompas.com
Senin, 4 Februari 2008 14:34 WIB
LONDON, MINGGU - Upaya para ahli kesehatan dunia untuk menemukan obat-obatan pencegah penularan HIV dan AIDS sepertinya tak pernah berhenti. Salah satu ambisi yang hingga kini belum terealisasi adalah menciptakan obat revolusioner berupa krim atau gel yang dapat melidungi wanita dari penularan AIDS, seperti halnya fungsi kondom pada pria.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Aids hingga saat ini tercatat telah menginfeksi sekitar 33 juta orang di seluruh dunia. Virus ini juga telah menyebabkan 25 juta kematian dan sejauh ini belum ada vaksin yang dapat mencegah virus mematikan ini. Penggunaan kondom sebenarnya dapat memberikan perlindungan, namun banyak pria yang enggan menggunakannya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan dua pertiga kasus penyakit menular seksual di dunia terjadi pada remaja dan dewasa muda. Sejauh ini banyak sekali remaja yang belum tersentuh pendidikan seksual khususnya yang terfokus mengenai kondom.
Rabu, 21 Mei 2008 13:21 WIB
BEKASI, RABU - Jumlah pengidap virus HIV di Kota Bekasi dalam kurun waktu 12 tahun yakni antara 1995- 2007 diperkirakan mencapai 54.700 orang. Tak heran kalau Kota Bekasi kini masih menduduki peringkat dua tertinggi dalam jumlah HIV di Provinsi Jawa Barat.
Manajer Program Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS LSM Mitra Sehati, Novan Andri, yang dihubungi Kompas.com Rabu (21/5), menjelaskan angka 54.700 merupakan hasil perhitungan berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kota Bekasi hingga 2007.
Kasus HIV di Kota Bekasi tercatat 547 kasus dan penderita AIDS mencapai 351 kasus. Sedangkan di Kabupaten Bekasi, HIV mencapai 194 kasus dan AIDS mencapai 35. Angka ini belum ditambahkan dengan data terbaru selama tahun 2008.
"Angka 54.700 adalah jumlah penderita HIV berdasarkan perhitungan fenomena gunung es yang digariskan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Untuk satu penderita, harus dihitung 100 orang penderita karena pola penularan HIV selama ini masih samar. Penderita HIV positif sama sehatnya dengan yang tidak HIV. Jadi, sulit untuk membedakan antara penderita yang positif dengan yang negatif," ungkapnya.
Tingginya angka penderita HIV di Kabupaten Bekasi, lanjut Novan, tidak terlepas dari beberapa faktor, di antaranya adalah pengaruh status kota ini sebagai wilayah penyangga DKI Jakarta yang memiliki jumlah penderita HIV tertinggi. Selain itu, arus urbanisasi ke Bekasi ini pun meningkat seiring dengan dampak industrialisasi.
"Hal lain adalah makin banyaknya masyarakat yang secara sukarela memeriksakan dirinya ke tempat-tempat VCT (Voluntary Counseling Testing) yang kini telah tersedia di tiga tempat di Kota Bekasi termasuk di LSM Mitra Sehati," ujarnya.
Tingginya penderita HIV di kota Bekasi, lanjut Novan harus disikapi serius dan meminta peran aktif semua pihak mulai dari tingkat keluarga, lingkungan dan pemerintah Bila di lingkungan keluarga tidak ada upaya untuk mengantisipasi, maka dikhawatirkan dari tahun ke tahun jumlah penderita HIV/AIDS akan meningkat..
Novan menyesalkan kurang aktifnya peran pihak pemerintah setempat dalam hal ini KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota Bekasi. "Alokasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk KPA Bekasi ini dibekukan akibat tidak adanya aktivitas dalam dua tahun terakhir. Ini jelas memprihatinkan," ujarnya.
Source : kompas.com
Minggu, 18 Mei 2008 16:29 WIB
WASHINGTON, MINGGU - Seperempat abad sejak virus penyebab AIDS ditemukan, upaya para ilmuwan di dunia menciptakan vaksin yang mampu mengatasi penyakit mematikan itu masih jauh dari harapan. Padahal, biaya yang dikeluarkan secara global untuk melakukan berbagai riset dan penelitian tidak sedikit jumlahnya.
Kenyataan ini membuat komunitas para ilmuwan dan peneliti HIV (Human Immunodeficiency Virus) merasa putus asa. Pukulan besar pernah mereka dapatkan pada September lalu ketika hasil uji klinis terhadap kandidat vaksin HIV paling menjanjikan justru menunjukkan hasil mengecewakan dan berujung pada kegagalan.
Hasil pengujian awal itu menunjukkan, alih-alih dapat mencegah HIV atau melemahkan virus pada mereka yang memakainya, vaksin yang diujicoba itu malah meningkatkan risiko mereka menjadi terinfeksi.
“Hampir satu miliar dollar AS biaya yang dihabiskan secara global untuk penelitian HIV/AIDS setiap tahunnya, dan kenyataan yang harus disadari bahwa sekarang ini belum ada kandidat vaksin HIV yang menjanjikan,” ungkap Profesor Bruce Walker, Direktur Pusat Penelitian AIDS di Harvard Medical School dalam artikelnya yang dimuat dalam jurnal Science edisi 9 Mei.
Kekecewaan juga pernah diungkapkan Peter Kim, presiden Merck Research Laboratories, yang mengembangkan kandidat vaksin tersebut. "Kami saling berbagi dalam kekecewaan para ahli dan komunitas HIV hari ini. Sayangnya, pengembangan vaksin AIDS yang efektif masih menjadi tantangan yang harus dihadapi kodekteran modern," ujar Kim pada saat itu.
Vakin yang dikembangkan Merck sebenaranya diciptakan untuk merangsang sel-sel T, sejenis sel darah putih yanng berperan penting bagi respon kekebalan tubuh. Vaksin ini dirancang dengan pendekatan berbeda dari vaksin-vaksin tradisional yang juga telah diuji tanpa menunjukkan hasil positif.
“Komunitas merasa tertekan karena kami tidak melihat adanya jalan terang menuju sukses,” ungkap ahli biologi dan penerima hadiah David Baltimore dalam komentarnya tentang vaksin AIDS pada pembukaan konferensi American Association for the Advancement of Science, Februari silam.
Patogen Unik
Sementara itu Walker menjelaskan bahwa keunian kualitas patogen HIV menyebabkan upaya pengembangan vaksin menjadi sangat berliku. Virus HIV memiliki keragaman rangakaian genetika yang luas, dan kemampuan yang hebat untuk bermutasi dan adaptasi.
Strain HIV dapat dibagi menjadi tiga kelompok berbeda, di mana tipe yang pertama atau tipe M dapat dibagi lagi menjadi 9 subtipe, yang juga memiliki banyak varian yang belum dapat ditentukan. Salah satu dari virus-virus sub-tipe bisa berubah mulai dari 20 menjadi 38 persen di Afrika, di mana virus dengan banyak varian ditemukan.
Selain itu, lanjut retrovirus bisa melakukan lebih banyak mutasi selama infeksi di seorang penderita jika dibandingkan dengan pandemik flu dunia yang hanya membutuhkan penciptaan sejenis vaksin baru setiap tahun. Dengan 33 juta orang terinfeksi HIV di seluruh dunia , pengembaangan vaksin untuk melindungi secera simultan terhadap seluruh varian patogen adalah sebuah tantangan berat.
Source : kompas.com
Usulan Kenaikan 30% Terlalu Besar
JAKARTA, (PR).-
Pemerintah belum memutuskan untuk memberikan subsidi bahan bakar bagi angkutan umum (pelat nomor kuning) untuk mengimbangi kenaikan harga BBM. "Sebelum kenaikan, rencana ini sudah dikaji di Kantor Wakil Presiden, namun perlu pemantapan teknisnya seperti apa," kata Menteri Perhubungan, Jusman Syafei Djamal, seusai rapat khusus dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) di Istana Wapres, Rabu (28/5).
